Menteri Yohana akan Gelar Seminar Ilmiah Matangkan Hukuman Kebiri

1018

Jakarta – Pemerintah akan mengatur hukuman kebiri bagi para predator seks. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise akan menggelar seminar untuk mematangkan.

“Setelah rapat terbatas dengan Presiden, KPAI, Mensos, Jaksa Agung, Menkes, kita semua setuju ada hukuman tambahan kebiri. Hukuman ini sudah diputuskan untuk dilaksanakan,” ungkap Yohana dalam jumpa pers di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Senin (2/11/2015).

Meski begitu, menurut Yohana, dalam beberapa waktu terakhir muncul pro dan kontra mengenai wacana ini. Ada beberapa kalangan yang juga tidak setuju dengan penerapan hukuman kebiri terhadap predator anak.

portal PA Bima

“Saya sebagai akademisi harus lihat respons yang masuk. Banyak yang merasa kebiri tidak menyelesaikan masalah, saya telepon teman-teman yang ada di luar negeri, di negara mereka sudah ada UU kebiri ada tapi it’s not solution. Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan kebiri menurunkan angka kekerasan seksual,” tutur Yohana.

Draf Perppu Kebiri

Yohana menyebut draf Perppu mengenai kebiri sudah ada. Namun untuk lebih mematangkannya lagi, Kementerian PP dan PA masih akan melakukan kajian ilmiah dengan menggelar sejumlah seminar yang hasilnya akan dijadikan tambahan bahan pertimbangan untuk Perppu tersebut.

“Saya lihat perlu ada kajian ilmiah, sebelum membuat kesimpulan. Pertama kriminolog UI dengan Komnas Perempuan tanggal 5 November akan membuat seminar khusus tentang pengebirian, dan akan datang dari kementerian,” kata Yohana.

“Kedua, kami akan membuat tanggal 10 November akan mengundang Jaksa Agung, Mensos, Menkes, UNICEF, KPAI, Komnas PA, pemerhati perempuan dan anak, serta para pakar lain. Dengan adanya dua hasil seminar akan jadi referensi kuat untuk menjabarkan Perppu yang dibuat pemerintah untuk menimbulkan efek jera,” sambungnya.

Perppu tentang perlindungan terhadap anak ini, dikatakan Yohaha, tidak akan keluar dari wacana kebiri seperti yang sudah dibahas dalam rapat terbatas dan disetujui oleh Presiden Joko Widodo. Namun nantinya juga akan ada pengembangan dari kajian ilmiah yang akan dibahas dalam seminar.

“Jadi akan jadi pertimbangan kami. Ada beberapa masukan dari pakar, kenapa kita tidak memberikan kebiri terhadap pelaku yang melakukan, ditangkap, lalu melakukan lagi (berkali-kali). Karena kebanyakan setelah dihukum mereka bisa berubah,” tuturnya.

Selain itu, lanjut Yohana, referensi lain menyatakan bahwa kebiri dilakukan untuk merehabilitasi pelaku, dan bukan sebagai hukuman. Juga tak kalah pentingnya terkait cara dalam menangani permasalahan kasus kekerasan seksual terhadap anak adalah pemulihan kepada para korban.

“Referensi mengatakan kebiri dilakukan untuk treatment agar pelaku mau berubah bukan untuk punishment dan yang penting adalah pemulihan victim, dan pelaku dilakukan rehabilitasi agar mau berubah. Itu yang dilakukan kebanyakan negara,” ucap Yohana.

“Tapi sekali lagi belum ada scientist evidence bahwa kebiri akan menurunkan angka kekerasan terhadap anak,” tutupnya.

Jika Yohana menyebut kebiri akan diatur di Perppu, maka Menkum Yasonna menyebut kebiri diatur dalam UU, peraturan yang lebih tinggi dibanding Perppu.
(aan/nrl)

 

sumber : https://news.detik.com/berita/3059574/menteri-yohana-akan-gelar-seminar-ilmiah-matangkan-hukuman-kebiri